Hw93HA4LiG8KQ6N3MHouzfA3a4cbHUT1jmp1qQzl
Bookmark

Dari Sungai Cisadane untuk Peradaban: Romo Ruby Santamoko Ajak Generasi Muda Jaga Budaya dan Lingkungan

TANGERANG,lingkar7.com
Perayaan budaya tidak semata-mata dimaknai sebagai peristiwa seremonial yang menampilkan kekayaan tradisi leluhur, melainkan juga sebagai momentum membangun kesadaran secara bersama mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, lingkungan hidup, dan warisan peradaban. Semangat inilah yang diwujudkan oleh Perkumpulan Boen Tek Bio Kota Tangerang melalui aksi nyata Gerakan Peduli Lingkungan dengan membersihkan bantaran Sungai Cisadane dalam rangkaian Perayaan Peh Cun 2577/2026, Senin (15/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari tersebut Ketua Umum Perkumpulan Boen Tek Bio, Dr. Romo Ruby Santamoko, S.Ag., M.M.Pd., M.M., didampingi Ketua Panitia Peh Cun 2026, Merry, serta diikuti sekitar 250 peserta yang terdiri dari pelajar Sekolah Setia Bhakti, Sekolah Budhi, mahasiswa Universitas Buddhi Dharma, para pemuda, relawan sosial, dan unsur pengurus Yayasan Boen Tek Bio.

Mengenakan seragam biru bertuliskan Gerakan Peduli Lingkungan, para peserta menyusuri bantaran Sungai Cisadane untuk membersihkan berbagai jenis sampah, mulai dari sampah plastik, limbah domestik, hingga tumpukan dedaunan yang terbawa arus sungai. 

Aktivitas tersebut bukan sekadar kegiatan kerja bakti, melainkan sebuah gerakan sosial yang mengandung pesan filosofis tentang relasi harmonis antara manusia dan alam. Dalam keterangannya kepada awak media, Dr. Romo Ruby Santamoko menegaskan bahwa Sungai Cisadane memiliki posisi yang sangat strategis, tidak hanya dari aspek ekologis, tetapi juga sebagai ruang sejarah dan peradaban masyarakat Tionghoa Benteng di Kota Tangerang.

"Budaya yang besar tidak hanya diukur dari kemegahan ritualnya, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu diwujudkan dalam kehidupan nyata. Sungai Cisadane adalah saksi sejarah perjalanan masyarakat Tangerang, termasuk tradisi Peh Cun yang diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, menjaga sungai sama artinya dengan menjaga identitas dan memelihara peradaban," ujar Romo Ruby.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa aksi peduli lingkungan tersebut merupakan media pendidikan karakter yang sangat penting bagi generasi muda. Menurutnya, pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus diimbangi dengan kecerdasan moral, kesadaran ekologis, dan tanggung jawab sosial.

"Kami ingin anak-anak muda memahami bahwa keberhasilan seseorang bukan hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kepeduliannya terhadap sesama, lingkungannya, serta kemampuannya menjaga nilai-nilai budaya. Inilah pendidikan karakter yang sesungguhnya," tegasnya.

Sebagai tokoh agama Buddha, akademisi, sekaligus pemimpin komunitas Tionghoa di Kota Tangerang, Romo Ruby juga menekankan pentingnya menjaga semangat toleransi dan keberagaman sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis.

Menurutnya, keberagaman bukanlah sebuah perbedaan yang harus dipertentangkan, melainkan modal sosial yang harus dipelihara untuk membangun peradaban yang inklusif dan berkeadaban.

"Budaya harus menjadi jembatan persaudaraan. Boen Tek Bio selalu membuka ruang kebersamaan bagi seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun latar belakang sosial. Kota Tangerang telah tumbuh menjadi kota yang plural, dan keberagaman itu harus terus dirawat sebagai kekuatan bersama," ungkapnya.

Ketua Panitia Peh Cun 2026, Merry, menjelaskan bahwa kegiatan bersih Sungai Cisadane memiliki makna simbolik yang sangat mendalam. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, kegiatan tersebut juga menjadi manifestasi tanggung jawab sosial komunitas dalam menjaga lingkungan hidup yang berkelanjutan.
"Kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak memandang sungai hanya sebagai aliran air, tetapi sebagai sumber kehidupan yang harus dirawat dan dijaga bersama. Kesadaran ekologis harus tumbuh dari seluruh lapisan masyarakat," katanya.

Merry juga mengungkapkan bahwa meskipun pada tahun ini perlombaan perahu naga belum dapat dilaksanakan karena adanya pembangunan fasilitas penyimpanan perahu, seluruh rangkaian ritual utama Perayaan Peh Cun tetap berlangsung secara khidmat dan meriah.

Rangkaian tersebut meliputi persembahyangan, pembacaan Paritta, ritual memandikan perahu, pembacaan Keng dan Piaw Bun, tradisi mendirikan telur, hingga ritual lempar bacang yang menjadi ikon budaya Peh Cun masyarakat Tionghoa Benteng.

Selain kegiatan ritual, panitia juga menyelenggarakan berbagai kegiatan hiburan rakyat, termasuk lomba karaoke dan pertunjukan Gambang Kromong yang bertujuan memperkuat interaksi sosial sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat luas.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, rangkaian Perayaan Peh Cun 2577/2026 diawali pada 12 Juni 2026 melalui kegiatan Lepas Ancak di Pendopo Peh Cun. Selanjutnya pada 15 Juni dilaksanakan Gerakan Peduli Lingkungan di bantaran Sungai Cisadane. Kemudian pada 16 hingga 17 Juni digelar lomba dan final karaoke rakyat.

Puncak acara akan berlangsung pada 19 Juni 2026 dengan berbagai agenda utama, di antaranya Gambang Kromong, persembahyangan Twan Yang, tradisi mendirikan telur, serta ritual lempar bacang yang selama ini menjadi simbol persatuan, keberuntungan, dan pelestarian budaya masyarakat Tionghoa Benteng Kota Tangerang.

Antusiasme masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa tradisi budaya yang dipadukan dengan gerakan kepedulian sosial dan lingkungan mampu menghadirkan energi positif bagi kehidupan masyarakat modern. 

Melalui kegiatan ini, Boen Tek Bio tidak hanya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup lintas generasi, tetapi juga membangun kesadaran bahwa peradaban yang maju adalah peradaban yang mampu merawat budayanya, menjaga lingkungannya, serta menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kemanusiaan.




Rhm
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
Cari Blog Ini
Popular Posts