TANGERANG, lingkar7.com
Kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di wilayah RW 007, Kelurahan Babakan, Kota Tangerang, berlangsung kondusif dengan tingkat partisipasi masyarakat yang signifikan. Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh balita dan para ibu, tetapi juga mendapatkan respons positif dari kalangan lanjut usia (lansia) yang turut memanfaatkan layanan kesehatan yang disediakan secara terpadu.Rabu 8/4/2026
Momentum ini menjadi krusial di tengah meningkatnya temuan gejala penyakit campak dalam beberapa waktu terakhir. Situasi tersebut mendorong pengurus wilayah RW 007 untuk mengambil langkah strategis dan terukur dalam memperkuat sistem pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti balita yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit menular.
Ketua RW 007, Deny Sukirman, menegaskan bahwa pelaksanaan Posyandu ini merupakan manifestasi nyata dari sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga serta meningkatkan derajat kesehatan publik secara kolektif dan berkelanjutan.
“Alhamdulillah, kegiatan Posyandu berjalan dengan baik dan mendapat respons luar biasa dari masyarakat. Partisipasi aktif para ibu dan lansia mencerminkan meningkatnya kesadaran kolektif akan pentingnya upaya preventif dalam menjaga kesehatan. Ini menjadi fondasi penting bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan,” ujarnya.
Secara substantif, kegiatan Posyandu tidak hanya berfokus pada pelayanan dasar bagi balita, seperti penimbangan berat badan, pemantauan tumbuh kembang, serta imunisasi, tetapi juga telah berkembang menjadi platform pelayanan kesehatan inklusif dengan menghadirkan pemeriksaan medis bagi lansia. Pendekatan ini mencerminkan transformasi layanan kesehatan berbasis komunitas yang adaptif terhadap kebutuhan lintas kelompok usia.
Hasil pemeriksaan awal terhadap lansia menunjukkan kondisi yang relatif stabil dan terkendali. Tidak ditemukan indikasi gangguan kesehatan serius secara klinis, meskipun tetap dilakukan langkah lanjutan sebagai bentuk mitigasi risiko melalui pemeriksaan laboratorium.Tenaga medis yang terlibat, dokter Susi Afrizal, menjelaskan bahwa pendekatan preventif menjadi prioritas dalam menjaga kualitas kesehatan lansia.
“Secara umum kondisi lansia dalam keadaan baik dan stabil. Namun, sebagai langkah antisipatif, kami melakukan pengambilan sampel darah pada beberapa individu guna mendeteksi potensi penyakit yang bersifat laten atau tidak bergejala,” jelasnya.
Pemeriksaan laboratorium tersebut difokuskan pada parameter kesehatan esensial seperti kadar gula darah, profil lipid (kolesterol), serta indikator klinis lain yang berpotensi mempengaruhi kondisi kesehatan jangka panjang. Pendekatan berbasis data ini dinilai penting dalam menentukan intervensi medis yang tepat dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Susi Afrizal memastikan bahwa hasil uji laboratorium akan segera diproses dan disampaikan kepada warga sebagai bentuk transparansi serta akuntabilitas pelayanan kesehatan.
“Insya Allah, hasil pemeriksaan laboratorium akan kami sampaikan dalam waktu dekat, sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya secara komprehensif dan mengambil langkah tindak lanjut yang diperlukan,” tambahnya.
Di sisi lain, Pengurus RW 007 secara terbuka melakukan refleksi terhadap pelaksanaan kegiatan dengan mengakui masih adanya sejumlah keterbatasan dalam aspek teknis pelayanan. Evaluasi menyeluruh direncanakan sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan ke depan agar lebih sistematis, profesional, dan merata.
“Kami menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan masih terdapat kekurangan. Hal ini menjadi bahan evaluasi penting bagi kami untuk terus berbenah dan menghadirkan pelayanan yang lebih optimal serta inklusif,” lanjut Deny.
Sebagai langkah progresif, pengurus wilayah juga akan mengimplementasikan strategi “jemput bola” pada kegiatan berikutnya. Warga yang dalam kondisi sakit atau memiliki keterbatasan mobilitas akan menjadi prioritas kunjungan langsung oleh tim kesehatan, guna memastikan tidak ada individu yang terlewat dari akses pelayanan kesehatan dasar.
Pendekatan ini dipandang sebagai model pelayanan kesehatan proaktif berbasis komunitas yang mampu memperkuat ketahanan kesehatan lingkungan sekaligus meminimalisasi kesenjangan akses layanan.
Dengan adanya kolaborasi yang solid antara pengurus wilayah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan masyarakat, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi rutinitas administratif, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam membangun sistem kesehatan masyarakat yang adaptif, responsif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Dengan demikian Pengurus RW 007 berharap adanya intervensi konkret dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk pembangunan ruang Posyandu permanen, renovasi fasilitas yang ada, maupun penyediaan sarana pendukung lainnya yang sesuai dengan standar pelayanan kesehatan.
“Kami berharap pemerintah dapat memberikan dukungan nyata, sehingga kegiatan Posyandu tidak hanya berjalan secara rutin, tetapi juga didukung oleh fasilitas yang layak, aman, dan memenuhi standar kesehatan. Ini penting untuk menjamin kualitas pelayanan kepada masyarakat,” pungkasnya.
Lebih lanjut, peningkatan fasilitas Posyandu juga dinilai sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Dengan sarana yang memadai, diharapkan pelayanan dapat berlangsung lebih optimal, terstruktur, dan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Harapan ini sekaligus menjadi refleksi atas pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat sistem kesehatan di tingkat akar rumput. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, Posyandu di RW 007 Babakan diharapkan mampu berkembang menjadi pusat layanan kesehatan komunitas yang modern, inklusif, dan berkelanjutan.
Kegiatan Posyandu RW 007 Babakan ini sekaligus menjadi representasi konkret dari penguatan layanan kesehatan tingkat akar rumput yang tidak hanya berfokus pada balita, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan lansia secara holistik, dalam kerangka pembangunan kesehatan masyarakat yang inklusif dan berdaya tahan tinggi.
Rohim


0 Komentar