Semangat perjuangan Kapitan Pattimura kembali menemukan manifestasinya dalam arena olahraga melalui gelaran Pattimura International Big Fight 2026 yang berlangsung megah di Studio Utama TVRI Pusat, Senayan, Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Ajang tinju profesional berskala internasional tersebut tidak hanya menghadirkan pertarungan-pertarungan kompetitif antara petinju nasional dan mancanegara, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan tinju Indonesia sekaligus penegasan posisi Maluku sebagai salah satu lumbung talenta petinju terbaik di Tanah Air.
Disaksikan ribuan penonton yang memadati auditorium serta jutaan pasang mata melalui siaran langsung TVRI Sports, turnamen ini menjelma menjadi panggung strategis yang mengintegrasikan olahraga, pembinaan generasi muda, diplomasi budaya, dan penguatan identitas kebangsaan melalui semangat perjuangan yang diwariskan oleh Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura.
Sejak laga pembuka, atmosfer pertandingan berlangsung penuh antusiasme. Petinju asal Ambon, Novi Saholeka (36), tampil menghadapi petinju juara nasional asal Banten kelahiran Nusa Tenggara Timur, Yedemiar (23). Duel pembuka tersebut menjadi pemanasan yang membakar semangat penonton sebelum memasuki partai-partai utama yang sarat gengsi dan prestise internasional.
Puncak perhatian publik tertuju pada pertarungan kelas super bantam 55,3 kilogram yang mempertemukan petinju Indonesia Sunan Agung Amoragam melawan petinju Thailand Nattha Phong Nuchaiy Aphum.
Dalam laga yang berlangsung sengit dan penuh determinasi, Sunan berhasil menunjukkan kualitas teknik, kekuatan, serta mental bertanding yang impresif hingga mengakhiri pertarungan melalui kemenangan Technical Knock Out (TKO).
Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkan Sunan Agung Amoragam meraih Sabuk Emas Gubernur Maluku, sebuah penghargaan prestisius yang menjadi simbol supremasi sekaligus kebangkitan petinju Indonesia di level internasional.
Euforia kemenangan Indonesia berlanjut melalui penampilan gemilang Noldi Manakane yang sukses menaklukkan petinju Thailand Phirawat Panthong dalam pertarungan delapan ronde yang berlangsung panas dan penuh tensi tinggi. Berdasarkan keputusan juri, Noldi meraih kemenangan mutlak dengan skor 80-72, menutup rangkaian pertandingan dengan catatan manis bagi kontingen Indonesia.
Promotor Pattimura International Big Fight 2026, Nikolas Johan Kilikily, menegaskan bahwa penyelenggaraan turnamen ini merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali ekosistem tinju profesional Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir relatif minim menghadirkan pertandingan internasional berskala besar.
Menurutnya, Indonesia memiliki sejarah panjang dalam dunia tinju yang pernah melahirkan petinju-petinju legendaris berkelas dunia. Oleh sebab itu, dibutuhkan panggung kompetitif yang berkelanjutan untuk melahirkan generasi penerus yang mampu mengharumkan nama bangsa.
"Indonesia memiliki rekam jejak besar dalam sejarah tinju dunia. Kita pernah melahirkan legenda seperti Ellyas Pical yang menjadi petinju Indonesia pertama peraih gelar juara dunia IBF. Karena itu, kami optimistis ajang ini akan menjadi ruang lahirnya petinju-petinju baru yang mampu bersaing di tingkat internasional," ujar Nikolas.
Ia menambahkan bahwa Pattimura International Big Fight 2026 merupakan salah satu event tinju profesional terbesar pada pertengahan tahun 2026 yang diharapkan dapat menjadi fondasi penting dalam proses regenerasi atlet nasional.
Acara pembukaan berlangsung semarak dipandu pembawa acara Fadly Sungkara. Dalam sambutannya, Pembina Promotor Pattimura International Big Fight 2026, Letkol Inf (Purn) G. Borlak, S.Sos., M.M., menekankan bahwa turnamen tersebut bukan sekadar kompetisi olahraga, melainkan sebuah gerakan kolektif dalam membangun sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan.
Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, kalangan swasta, komunitas masyarakat Maluku, hingga TVRI yang berperan besar dalam menyukseskan penyelenggaraan kegiatan.
"Keberhasilan malam ini adalah hasil kolaborasi seluruh elemen bangsa. Dukungan pemerintah daerah, para sponsor, masyarakat Maluku, dan TVRI menjadi fondasi utama terselenggaranya agenda besar ini. Harapan kami, dukungan tersebut terus berkembang agar Indonesia kembali melahirkan petinju-petinju kelas dunia," katanya.
Momentum semakin kuat dengan kehadiran Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, SH., LLM, yang secara resmi membuka turnamen tersebut.
Dalam pidatonya, Hendrik menegaskan bahwa nama Pattimura yang diusung dalam ajang ini tidak sekadar merujuk pada sosok pahlawan nasional, tetapi merupakan representasi nilai-nilai perjuangan masyarakat Maluku yang menjunjung keberanian, kehormatan, ketangguhan, dan semangat juang yang tidak pernah padam.
"Nama Pattimura bukan hanya simbol sejarah, tetapi representasi karakter masyarakat Maluku yang berani, tangguh, bermartabat, serta memiliki daya juang yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan," tegas Hendrik.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tercermin nyata dalam penampilan para petinju yang bertanding dengan mengedepankan sportivitas, disiplin, kemampuan teknis, serta mental kompetitif yang tinggi.
"Di atas ring malam ini kita menyaksikan lahirnya Pattimura-Pattimura muda yang bertarung bukan dengan amarah, melainkan dengan kehormatan, teknik, disiplin, dan semangat untuk meraih prestasi terbaik," ujarnya.
Hendrik juga menegaskan bahwa Maluku memiliki tradisi panjang dalam melahirkan atlet tinju berbakat. Oleh karena itu, ruang kompetitif seperti Pattimura International Big Fight harus terus diperluas guna membuka akses bagi petinju daerah menuju panggung nasional dan internasional.
Dimensi Sosial dan Pembinaan Generasi Muda
Tidak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, rangkaian kegiatan juga diwarnai aksi sosial melalui penyerahan hasil lelang lukisan legenda tinju Indonesia Ellyas Pical senilai Rp50 juta.
Dana tersebut dialokasikan untuk mendukung pelatihan olahraga tinju dan pembinaan generasi muda Maluku sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan dan berorientasi pada pembangunan sumber daya manusia.
Ketua Umum DPP GRIB Jaya sekaligus Pembina Promotor, Rosario de Marshall (Hercules), turut menyampaikan apresiasi terhadap para petinju Indonesia yang berhasil mengharumkan nama bangsa melalui kemenangan-kemenangan yang diraih dalam turnamen tersebut.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kapolri, unsur Kementerian Pemuda dan Olahraga, Wakil Gubernur Maluku Utara, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Direksi LPP TVRI, Federasi Tinju Profesional Indonesia (FTPI), Kerukunan Keluarga Besar Masyarakat Maluku (KKBMM), DPP Angkatan Muda Pattimura, para promotor, ofisial pertandingan, juri, hingga petinju dari berbagai daerah dan negara.
Lebih dari sekadar pertandingan olahraga, Pattimura International Big Fight 2026 tampil sebagai instrumen diplomasi budaya yang mempertemukan semangat lokal dengan kompetisi global.
Turnamen ini menjadi bukti bahwa olahraga mampu menjadi medium strategis dalam membangun identitas daerah, memperkuat persatuan nasional, sekaligus membuka jalan lahirnya atlet-atlet berprestasi yang siap membawa Merah Putih berkibar di panggung dunia.
Ke depan, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, federasi olahraga, dunia usaha, dan para promotor diharapkan semakin diperkuat agar kebangkitan tinju Indonesia tidak berhenti sebagai momentum sesaat, melainkan berkembang menjadi gerakan nasional yang mampu melahirkan generasi petinju berkelas dunia, berkarakter kuat, dan berdaya saing internasional.
Pattimura International Big Fight 2026 pada akhirnya bukan hanya tentang kemenangan di atas ring, melainkan tentang menghidupkan kembali semangat perjuangan, membangun regenerasi atlet nasional, serta menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki potensi besar untuk kembali menjadi kekuatan penting dalam peta tinju dunia.
Rohim

.jpg)


