Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Ziarah ke Makam Bung Karno Kuatkan Spirit Kebangsaan dan Nilai Kepemimpinan Polri
BLITAR, lingkar7.com
Menjelang peringatan HUT Bhayangkara ke-80, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. melanjutkan kegiatan ziarah kebangsaan ke makam para Presiden Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya refleksi historis dan penguatan nilai-nilai fundamental kebangsaan dalam tubuh institusi Polri.
Ziarah kebangsaan yang dilakukan ini menjadi manifestasi komitmen Polri dalam membangun kesinambungan nilai perjuangan para pemimpin bangsa dengan orientasi pengabdian institusi terhadap masyarakat, bangsa, dan negara.
Sebelumnya, Kapolri juga telah melaksanakan ziarah ke makam Presiden RI keempat, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Rangkaian tersebut direncanakan akan berlanjut ke makam Presiden RI kedua, Soeharto, sebelum ditutup dengan prosesi penghormatan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Dalam keterangannya, Listyo Sigit menegaskan bahwa rangkaian ziarah ini memiliki makna substantif sebagai ruang refleksi kolektif untuk menyerap, menggali, dan menginternalisasi nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh para tokoh bangsa. Menurutnya, nilai-nilai tersebut memiliki relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan dinamika sosial dan tuntutan transformasi kelembagaan Polri di era modern.
"Tadi pagi kami melaksanakan ziarah ke makam almarhum Presiden Gus Dur dan Alhamdulillah saat ini kami berkesempatan melaksanakan ziarah ke makam almarhum Presiden Soekarno. Setelah ini kami akan melanjutkan ke makam Presiden Soeharto dan selanjutnya ditutup di Taman Makam Pahlawan Kalibata," ujarnya.
Lebih lanjut, Sigit menjelaskan bahwa institusi Polri memiliki tanggung jawab moral dan konstitusional untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pemimpin bangsa. Nilai tersebut meliputi semangat nasionalisme, pengabdian kepada rakyat, integritas, persatuan nasional, serta komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurutnya warisan pemikiran dan keteladanan para pemimpin nasional tidak dapat dipahami semata sebagai bagian dari memori historis, melainkan harus ditransformasikan menjadi energi sosial dan spirit kelembagaan yang hidup dalam praktik pengabdian aparatur negara.
"Rangkaian kegiatan yang kami laksanakan kali ini merupakan bagian dari tradisi institusi untuk terus menyerap dan menggali nilai-nilai para pemimpin bangsa. Hal tersebut sangat penting bagi institusi Polri karena kami memiliki amanah untuk mempertahankan warisan nilai yang telah diberikan para mantan Presiden dan pemimpin bangsa terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun terhadap institusi Polri," ungkap Jenderal Sigit.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari penguatan identitas Polri sebagai institusi negara yang tidak hanya menjalankan fungsi keamanan dan penegakan hukum, tetapi juga memikul tanggung jawab historis dalam menjaga fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan semangat perjuangan para pendiri bangsa harus menjadi sumber inspirasi yang terus diperkuat dalam budaya organisasi Polri. Di tengah perkembangan tantangan keamanan nasional yang semakin kompleks, Polri dituntut untuk mampu menghadirkan pelayanan yang profesional, humanis, adaptif, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
"Nilai-nilai tersebut harus terus dijaga dan dipertahankan. Ini menjadi kekuatan dan energi positif yang terus kami kembangkan sebagai spirit institusi Polri agar dapat menjalankan amanah masyarakat, bangsa, dan negara secara optimal serta melaksanakan seluruh tugas dan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya," tegas Sigit.
Rangkaian ziarah kebangsaan menjelang Hari Bhayangkara ke-80 tersebut merefleksikan komitmen Polri dalam membangun institusi yang berakar kuat pada sejarah perjuangan bangsa, sekaligus berorientasi pada transformasi masa depan.
Dengan menjadikan nilai-nilai kepemimpinan nasional sebagai fondasi moral dan etika kelembagaan, Polri diharapkan mampu terus memperkuat kepercayaan publik serta menghadirkan pengabdian yang berintegritas bagi Indonesia.(ezha)
Editor: Rohim
